Sabtu, 05 Desember 2015

Senja

Senja.. aku selalu menemukan senja. Di situ lah aku melepas semua keletihanku, senja tempatku berlabuh. Aku berharap kau akan selalu ada jika ku pulang. Tak ada yang ku rindukan selain kau. Waktu bukanlah sore tanpa kau senja. Cahayamu, sangat indah.. dan aku memberimu nama NUR SENJA. Tumbuh lah, jadilah manusia yang ibu harapkan.
Ibu mengandungmu nak. Dari 9 bulan yang lalu, dari kesakitan yang tak pernah kau tau. Lebih-lebih rasa sakit saat melahirkan. Dan ketika kau lahir, kau menangis, karena kau yang biasanya makan dan minum dari ketuban ibu. Kini saat kau lahir tak ada makanan. Ayahmu menggendongmu, dia lah yang pertama memperkenalkan suara padamu, itu.. ingatlah suara ayahmu. Dia mengadzanimu, tapi kau semakin menangis. Ibu memelukmu, menyusuimu.
Membesarkanmu ternyata lebih sakit dari pada melahirkanmu. Saat kau berumur 6 bulan, engkau mulai makan bubur bukan hanya ASI dari ibu saja. Ibu mengajarimu makan dengan tangan, tapi kau hanya mengacak-acak saja. Dengan sabar ibumu ini, menuntunmu makan dengan sendok, karena dia ingin kau tau inilah cara makan manusia bukan binatang.
Satu tahun kini beranjak, ibu mengajarimu berjalan, agar kau dapat berjalan dengan tegap, dan berlari sekencang mungkin. Apa itu mudah??.. tentu tidak. Dan kau mulai mengoceh, selalu berkata-kata, menirukan orang lain bicara. Ibumu memberikan perkataan yang baik, agar kau selalu berkata dengan baik.
Kau kini kau harus mulai belajar, bukan hanya bersama ibumu. Hari ini kau mulai belajar di taman kanak-kanak. Pertama kali kau menemukan seorang teman, dan di ajar oleh seorang guru. Ibu memperkenalkan guru, dia orang tua penggantinya, orang tua kedua selain ayah ibumu.
Senja.. kini kau remaja. Kau belajar tidak di sini lagi, ku relakan engkau pergi berkelana mencari ilmu. Bukan yang sedih engkau, tapi kedua orang tuamu lah yang sangat sedih. Saat seorang titipan tuhan harus mencari jati dirinya, orang tua lah yang selalu berdoa siang dan malam agar kau baik-baik saja.
Kau tak pernah pulang, perginya entah kemana. Engkau hanya pulang membawa selembar kertas. Dan berkata “Bu, saya lulus sarjana” ibumu menangis bahagia namun bercampur sedih karena kau akan pergi lagi. Senja.. meminta izin ingin pergi mencari pekerjaan.
Kau tau.. rasanya. Inilah rasa ibumu. Ibu yang tulus dari kecil mendidikmu, dan kini kau tumbuh besar. Dan ketika kau dewasa, kau menemukan kehidupanmu sendiri, mencari istri dan membangun keluarga sendiri.
Senja.. senjaa.. ibu memanggilmu. Kini ibu sudah tua, jalanpun tak sekuat dulu. Ibu harap kau mengertilah. Ibu ingin tinggal bersamamu dan ibu hanya ingin kau memberikan sedikit waktu untuk mengurusi ibumu ini. Ibu ingin dirawat olehmu, hingga ibu tlah tiada.

Senja.. terimakasih nak, kau telah membuat ibu bangga.. kau telah menghantarkan ibumu ini kedalam surga. Ibu hanya berpesan, inilah kehidupan hadapi dengan berani niscaya kau bisa menaklukannya dengan ridho orang tuamu. Ibu akan menutup mata dengan tenang. :’)