Selasa, 19 Mei 2015

Cerpen

Ezza

Yang duduk di kursi panjang, menatap layar ponsel dengan serius, itu aku. Sudah jadi tradisi bagiku, setiap sore aku membuka akun facebook. Sambil duduk di kursi panjang samping rumahku. Kursi itu sengaja di buat ayah untuk duduk-duduk santai. Ponselku bergetar, muncul pemberitahuan permintaan pertemanan. Tanpa melihat profil sang peminta pertemanan, aku langsung mengonfirmasi. Dia pun menjadi teman facebookku.
Masih asik facebookan, ada inbox dari orang tadi yang meminta pertemanan. Ku buka pesan itu, dia bilang terima kasih sudah mengonfirmasi, sama-sama balas ku. Sejak saat iyu kita mulai berkenalan dan menjadi dekat. Aku yang biasanya cuek sama orang baru, tapi kali ini tidak. Hari-hari berikutnya aku lebih sering facebookan dengan dia.
Ezza itu nama dia, orang yang baru aku kenal dari facebook. Dari ucapan-ucapannya sepertinya dia pintar, baik, dan sholeh. Saking penasarannya aku buka-buka profilnya. Foto profilnya gambar pemain sepak bola, foto sampulnya tak ada, dia juga tak pernah mengunggah foto. Status pun dia jarang buat. Misterius banget nih orang.
Lalu aku bertanya, kenapa facebooknya kosong. Bilangnya itu facebook barunya jadi masih kosong dan facebook yang lamanya ada yang retas. Lama-kelamaan Ezza mulai mengeluarkan kata-kata gombal, yang menurut pandangannya bukan. Dan aku mencoba tidak terpengaruh. Waktu aku bertanya tempat wisata didaerahnya, Ezza ngajak aku jalan-jalan ke tempat itu.
“kamu mau kesitu?, sama aku aja!. Entar kita naik motor berdua”
“tapi maaf, pasti mamah gak bakal ngebolehin. Aku cewe dan aku harus menjaga kehormatanku. Maaf yha”
“nggak papa koq. Mungkin takdir yang akan mempertemukan kita, kalau kita berjodoh. Dan semoga saja kita berjodoh”
“insyaallah” aku hanya membalas seperti itu dan tak berani berkata apa-apa lagi. Getaran apa ini?, aku merasakan cinta disini. Ahh.. iya masa aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang tak pernah ku lihat bahkan batang hidungnya. Ada-ada saja aku ini.

2 Bulan kemudian...
“FIGHTING buat hari ini... semangat buat lomba KIRnya” aku memperbarui statusku. Hari ini aku menjadi perwakilan kotaku dalam rangka lomba KIR satu Provinsi. Semoga saja penelitianku ini membawakan hasil yang baik. Amiiin...
Deuh lama banget sih. Giliranku sih udah tapi nunggu pengumumannya lama. Hampir 2 jam aku nunggu, gak sabar rasanya, adzan ashar mulai berkumandang. Dari pada aku disini, lebih baik solat aja dulu dan meminta doa agar aku bisa memenangkan lombanya.
Terlihat dari jendela semua peserta mulai berkumpul di ruangan. Sepertinya pengumuman pemenang akan segera diumumkan. Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya, keringat dingin pun mulai membasahi bajuku. Ya Allah semoga aku bisa menang. Mula-mula di panggil  juara ke-3 yang bukan aku. Setelah itu namaku terpanggil, aihh... aku juara ke-2, Ya Allah terimakasih atas segalannya, aku pun langsung bersujud syukur.
Betapa senangnya aku. Akhirnya aku bisa membanggakan ke2 orang tuaku, sekolahku, dan kotaku. Beberapa hari kemudian aku mendapat tugas untuk penelitian di sebelah timur pulau jawa. Kali ini penelitianku agak berbeda karena aku menelitibersama teman-teman juara lomba KIR yang kemaren. Jadi semakin semangat aja nih.
Bus meluncur, jalan yang ramai tapi tidak macet. Membuat bus berjalan dengan pelan. Aku duduk menyandar di kaca jendela, ku buka ponselku dan membuka facebook. Ezza tidak sedang online. Aneh.. dia sekarang jarang online. Huft.. bikin bete aja.
Dari belakang, dia menuju kursi bus yang aku duduki, orang itu langsung duduk di sebelahku, kebetulang bangku di sebelahku kosong. Dia mengulurkan tangan.
“Ezza” dia memperkenalkan diri
“Anita” jawabku cuek. Yha aku sudah tau, dia Ezza peraih juara pertama.
“kamu, nggak tau aku?”tanyanya.
“tau koq. Ezza yang juara pertama kan?” aku balik tanya.
“yaa itu emang bener. tapi yang kamu tau cuman itu doang?”
“yaa iyalah. Terus aku harus kepoin kamu gitu?”
“Anitaaa... aku ini Ezza. Ezza yang kamu kenal dari dari facebook”
“masa sih?” tanyaku tak percaya. Dari sekolah asalnya, tanggal lahirnya memang sama seperti Ezza yang aku kenal dari facebook. Dan dari kemaren aku tak sadar telah melihat Ezza yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar kata-kata yang dikirimkannya melalui jejaring facebook. Ahh.. seneng banget deh hari ini. Aku bisa ngobrol tanpa perantara, tapi langsung menatap mukanya. Dan semoga saja ini sebuah sknario tuhan mempertemukan kita adalah jodoh.
Karena kegiatan ini, aku banyak bertemu dengannya untuk satu minggu ke depan. Kita tidak pacaran, karena dia seorang muslim yang baik. Pacaran menurut dia tidak sesuai dengan ajaran agama. Kalau sebuah hubungan terjalin serius lebih baik ta’aruf dan melangsungkan pernikahan. Untukku semua itu tidak masalah. Saat hari terakhir kita disini, Ezza membawaku jalan-jalan berkeliling dan foto-foto. Disebuah kios baju Ezza mengajakku masuk, ternyata kios baju itu milik bibi Ezza.
“ehh.. Ezza. Gimana kabar bapak ibu kamu” sapa bibi Ezza
“baik bi”
“kamu bawa pacar?” goda bibi Ezza, sambil melirikku.
“hahaha.. dia bukan pacar lagi, tapi calon istri” jawab Ezza dengan senyumnya.
Aku tak percaya Ezza mengatakan itu, tapi ia benar-benar mengatakannya. Aku merasakan pipiku memerah, ah malunya jika terlihat. Aku mulai memberanikan bicara. “ah.. masa sih?”
“kok bilangnya gitu sih. Emangnya kamu nggak mau punya suami aku. Harusnya Amiin dong”
“iya deh. Amiin” jawabku
Aku berbincang-bincang dengan bibi Ezza. Mungkin ini kesempatan bisa dekat dengan keluarganya. Ezza sedang memilih baju, dia membeli sepasang baju yang sama dan memberikan satu untukku. Ezza menyuruhku langsung memakai baju itu dan dia pun memakai baju itu. Baju kita samaan.. It’s so sweet... J . jalan-jalannya belum selesai, lalu kita makan disebuah kedai.
Hari ini, hari perpisahan. Rasanya aku tak mau berpisah dengannya. Tapi aku mencoba tidak egois dengan adanya perpisahan ini. Aku akan menantikanmu. Ku tunggu kedatanganmu dirumahku. Ezza membisikan kata-kata yang membuatku tersenyum dalam perpisahan ini dan bersemangat untuk menunggunya.
“percayalah kita akan dipertemukan kembali. Kita akan bersama.”
Dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya.

4 Tahun kemudian...
Aku sarjana S1 di Paris. Karena lomba KIR, aku dapat bea-siswa untuk kuliah di Paris. Ku dengar Ezza juga mendapatkan bea-siswa ke California. Selama ini kita belum pernah bertemu. Facebooknya tak pernah aktif lagi. Nomor ponsel pun aku tak punya, aku tak pernah meminta nomor ponselnya. Aku hanya mendoakan dia dalam setisp solatku. Aku cukup bersabar menantikannya, tapi kesabaranku mulai terkikis dengan dugaan-dugaan yang tidak jelas. Ya Allah... aku menangis mengingat kenangan dulu bersama Ezza, foto kita, baju yang pernah diberikan dia. Masih tersimpan rapih. Akankah semua ini hanya menjadi kenangan. Mana sknario tuhan yang dulu mempertemukan kita agar berjodoh. Air mataku keluar semakin derasnya.
Kesedihanku yang terlalu memikirkan Ezza, akhirnya berkurang dengan kegiatanku menjadi seorang guru SMA dikota. Pekerjaanku ini aku jalani dengan sepenuh hati, karena aku sadar pekerjaannya yang di barengi dengan kesedihan akan menjadi benan tambahan.
“tut.. tut..” ponselku berdering
Kaka besok jemput aku yhaa. Di bandara jam 2 siang. Sekiranya seperti itu pesan dari adikku nadin. Nadin sedang toor di London.
Dari sekolah, aku tidak pulang ke rumah. Jadwalku sekarang adalah menjemput adikku di bandara. Dari sekolah ke bandara membutuhkan waktu 1 jam perjalanan. Sampai di bandara jam setengah satu. Ku sempatkan untuk solat dzuhur terlebih dahulu.
Ku pandangi jam tanan, jam dua kurang sepuluh menit. Diruangan tunggu aku duduk. ternyata ada pesawat yang mendarat tapi rasanya itu bukan pesawat yang adikku tumpangin, karena pesawat pesawat ini datang lebih cepat. Dan benar juga tak ada adikku di situ. Tapi yang ada malah dia, dia yang membuatku menunggu. Ezza.. iya itu Ezza. Dia kembali ke Indonesia. Aku berjalan mendekatinya, tiba-tiba langkahku terhenti. Siapa itu, wanita yang menjemputnya, wanita itu mencium pipi Ezza. Mungkin itu pacarnya.
Dadaku rasanya sesak sekali. Mataku memerah tapi tak keluar air mata. Walaupun adikku di mobil bercerita tentang   toornya yang menyenangkan, aku tetap diam. Makan siang pun aku tak bernafsu. Di pikiranku hanya Ezza. Ezza yang sangat aku cintai menghianatiku. Allah.. sakit banget rasanya.
Setelah kejadian di bandara itu. Hatiku masih terasa sakit. Dari agendaku hari ini ada jadwal seminar, lumayan lah ngurangin bete, soalnya hari ini gak ada kelas ngajar. Aku sering menghadiri seminar-seminar menurutku itu untuk memambah-nambah pengetahuan. Tiba diseminar, sudah banyak orang, seminar juga sudah di mulai sendari tadi. Disitu aku melihat Ezza bersama wanita yang ada dibandara bersamanya, aku langsung pergi dari situ. Rupanya Ezza juga melihatku, Ezza mengejarku dan memanggil-manggil namaku, aku tak memperdulikannya. Hatiku sudah lara karenanya.
Tanganku berhasil dia pegang, aku pun berhenti. Dia mengajakku ketaman sebelah gedung seminar. Mungkin dia akan menjelaskan bahwa hubungan kita sudah berakhir, kau bicara itu aku sudah pasrah kok. Wajahnya lesu seakan menceritakan kesedihan.
“an.. gmana kabarmu. Kamu makin cantik saja”
“kurang baik karenamu, buat apa kamu menanyakan kabarku. Setelah kamu menyakitiku”jawabku marah
“maaf An. Tapi aku tak tau apa yang sedang kau bicarakan”
“kau menghianati janjimu. Siapa yang wanita yang berada di bandara bersamamu, sudahlah tak usah pura-pura gak tau”
“dia cuman temen aku, Anita. Perlu kamu tau An, aku sangat merindukanmu”
Aku menitikan air mata “omong kosong, aku tak percaya itu”
“ok. Maaf kalau aku telah menyakiti hatimu. Dan maaf juga kalau aku belum menepati janjiku.”
Dia malah pergi meninggalkan ku sendiri. Dugaanku benar, dia sudah memiliki orang lain dihatinya. Dia pergi tanpa memperdulikanku, kalau dia benar masih sangat mencintaiku harusnya dia berada disini menemangkanku, menjelaskan semuanya, dan meyakinkanku. Bukan pergi, Ezza kau jahat sekali padaku.hujan air mata pun turun lagi pada hari ini.
Lembaran kisahku bersama Ezza ku tutup rapat-rapat dan ku buang sejauh mungkin. Memulai hidup yang baru, yang mungkin lebih baik. Aku berjalan menenteng laptop menuju taman di rumahku. Mencari tempat duduk yang enak, dan menghidupkan laptopku.
Nadin adikku datang, dia menyuruhku cepat-cepat ganti baju. Tapi aku tidak mau, hari inikan hari libur. Dan aku memanfaatkan waktu luangku untuk membuka laptop. Adikku memaksa, sampai-sampai aku ditarik-tarik menuju ke kamar. Aku tanya kenapa tapi tidak di jawab, dia bilang kaka bawel tinggal nurut aja apa susahnya sih. Akhirnya aku menurut.
Aku memakai baju yang dipilih adikku. Dia mendandaniku dengan cekatan. Ku akui adikku lebih pandai berdandan dari pada aku. Hijab yang melekat pada kepalaku menyatu apik dengan wajahku. Aku rasa sekarang cantik seperti seorang putri. Aku di antarkan adikku ke ruang tamu entah siapa yang bertamu, sampai aku harus berdandan seperti ini. Oh.. God.. Ezza datang ke rumahku. Ada apa gerangan Ezza bermain ke rumahku, dia membawa semua keluarganya. Jangan.. jangan... Tuhan dia melamarku, dia menepati janjinya.
“janjiku tak akan ku lupakan, untukmu sayang” bisiknya di telingaku













Tidak ada komentar:

Posting Komentar